Categories

Meta

Archives


« Ensiklopedia, dari Dulu sampai Sekarang | Main | Kertas dan Mesin Cetak »

Perpustakaan di Pojok Rumah

By sabrul.jamil | May 21, 2008

campbelllibrary.jpgTerakhir kali saya ke perpustakaan, saya dibuat kecewa. Bukan karena sedikitnya jumlah buku di perpustakaan tersebut, tetapi karena saya tidak menemukan buku-buku yang cukup up to date, yang sesuai dengan perkembangan teknologi informasi saat ini. Buku-buku teknologi informasi yang up to date memang lebih tersedia di toko-toko buku, dan dunia maya alias internet. Jadi, wajar kalau saya lebih sering berkunjung ke toko buku dan internet, ketimbang ke perpustakaan.

Tapi tidak selamanya perpustakaan menyedihkan seperti itu. Cukup banyak buku-buku koleksi perpustakaan yang tidak ketinggalan jaman meski sudah berusia di atas lima tahun. Apalagi buku-buku fiksi, sampai kapan pun, kalau kita memang belum pernah membacanya, akan tetap menarik. Sebut saja karya-karya Karl May, dengan tokohnya Old Shutterhand dan Winnetou yang sudah saya baca sejak sekolah dasar, sampai sekarang pun masih menarik.

Mengingat pertumbuhan buku-buku baru memang jauh lebih cepat dari pada pertambahan koleksi kebanyakan perpustakaan, membuat perpustakaan sendiri jadi alternatif bagi sebagian keluarga. Isi perpustakaan ini tentu tidak ‘seheboh’ perpustakaan beneran. Biasanya hanya berisi buku-buku yang menjadi minat keluarga tersebut.

Apakah Anda mempunyai perpustakaan pribadi? Jika jawabnya tidak, saya akan ganti pertanyaan saya, apakah Anda mempunyai koleksi buku? Walaupun sedikit, katakanlah koleksi Anda bisa dijejerkan di meja belajar, sebenarnya sudah dapat dikatakan bahwa Anda berpotensi mempunyai perpustakaan pribadi.

Lho, apa bedanya koleksi buku dengan perpustakaan? Tentu berbeda. Perbedaan utamanya adalah pada ketertataan.

Salah satu tanda kalau koleksi kita kurang tertata adalah jika kita sering merasa kesulitan untuk mencari kembali buku-buku kita sendiri. Tanda lainnya adalah apabila kita lupa, siapa yang meminjam buku kita. Tanda yang lebih parah adalah ketika kita bahkan tidak ingat pernah memiliki judul buku tertentu, dan .. suprise .. tiba-tiba kita menemukannya di tumpukan koran-koran tua.

Nah, tanda-tanda di atas adalah motivator yang baik bagi kita untuk memulai membuat perpustakaan pribadi.

Pertanyaannya, apa yang harus ditata?

Pertama, lokasi. Letakkan buku-buku Anda pada tempat tertentu. Biasanya rak buku. Jika tidak punya, bisa juga di salah satu sisi meja. Gunakan siku-siku penjepit buku, agar tidak mudah roboh.

Ada yang menyarankan, agar anak Anda jadi gemar membaca, sediakan buku hampir di setiap ruangan. Di ruang tamu (biasanya ini untuk buku-buku tebal dan bersampul bagus, lumayan buat dekorasi), ruang keluarga (buku-buku umum, komik, ilmiah populer, siapa tahu bisa menyaingi sinetron murahan dan mengurangi hobby menonton di keluarga Anda). Di kamar tidur (biasanya buku-buku pelajaran atau kuliah, karena kamar sering multifungsi sebagai ruang belajar, betul enggak?).

Tapi itu semua cuma saran. Tidak harus begitu juga tidak apa-apa. Yang penting Anda meletakkan buku-buku di tempat tertentu secara teratur dan terencana (bukan asal taruh, dan kemudian lupa). Nah, setelah itu, catat koleksi perpustakaan Anda. Apa? Malas dan tidak sempat? Ok, tidak masalah, yang penting Anda sudah tahu dimana letak buku-buku Anda, sehingga tidak kerepotan ketika mencarinya.

Nah, bicara soal cari mencari, buku akan lebih mudah ditemukan apabila dikelompokkan berdasarkan kategori tertentu. Jadi, penataan yang kedua adalah pengklasifikasian. Urusan pengklasifikasian ini bisa gampang, tapi bisa jadi sangat serius. Bahkan orang perlu mengambil D3 dan S1 (sekarang malah sudah ada S2-nya) untuk menjadi ahli di bidang ilmu perpustakaan.

Aturan pengklasifikasian yang terkenal adalah DDC (Dewey Decimal Classification) , yang dibuat oleh Melvil Dewey pada tahun 1870. Saat ini DDC sudah edisi ke 22. Selain versi tercetak (printed) tersedia pula versi web. DDC mengatur pengklasifikasian dengan nomor-nomor: 000 untuk Generalities, 100 Philosophy and Psychology, 200 Religion, 300 Social Science, 400 Language, 500 Natural Science and Mathematics, 600 Technology (Applied Sciences), 700 Arts, 800 Literature, dan terakhir 900 Geography and History.

Setiap nomor tadi memiliki penjabaran lagi yang lebih detail. Misalnya untuk kelompok 200 Religion, memiliki nomor-nomor detail yaitu 210 Philosophy & theory of religion, 220 Bible, 230 Christianity, 240 Christian moral & devotional theology, 250 Christian orders & local church, 260 Social & ecclesiastical theology, 270 History of Christianity & Christian sects, 280 Christian denominations, 290 Comparative religion & other religions.

Jadi, jangan kaget, kalau buku-buku agama Islam ternyata hanya masuk kelompok ‘Comparative religion & other religions’, alias tidak punya nomor global tersendiri yang sejajar dengan Christianity. Aturan ini memang disusun bukan oleh muslim, dan sangat berbau kristen. Namun nomor-nomor tadi masih bisa dipecah lebih detail lagi, sehingga para pustakawan muslim masih bisa menyusun nomor-nomor pengklasifikasian tersendiri sesuai dengan topik-topik keislaman, jika tetap masih ingin menggunakan DDC.

Jika aturan DDC terasa terlalu repot buat Anda, mungkin ada baiknya ada mengikuti saran Musa Al Almawi (w. 1573) berikut ini, yang saya kutip dari Elegi Gutenberg: “Buku-buku harus diatur menurut subjeknya, dan buku yang paling penting harus ditempatkan paling atas. Urutan berikut ini harus dipatuhi: pertama adalah AlQuran; lalu kitab hadits shahih, seperti shahih al-Bukhari dan Shahih al-Muslim; selanjutnya tafsir AlQuran; berikutnya komentar terhadap kitab hadits; disambung kitab-kitab fiqih; lalu kitab ushul al-din dan ushul al-fiqh; terus buku-buku tata bahasa, puisi, dan ilmu-ilmu yang lain.”

Ibn Jama’ah, pada 1273, menambahkan saran yang lebih terperinci. “Jika ada dua buku tentang subjek yang sama, maka buku yang lebih banyak mengandung kajian AlQuran atau hadits hendaklah ditempatkan di atas. Jika dalam hal ini keduanya sama, maka tingkat pentingnya pengarang buku tersebut mesti dipertimbangkan. Jika dalam hal itu kedua pengarang sama, maka pengarang yang lebih tua umurnya dan lebih dicari para ulama ditempatkan lebih atas. Kalaupun dalam hal ini keduanya sama, maka buku yang lebih benar penulisannya harus ditempatkan di atas.”

Bagaimana, apakah penjelasan di atas terasa lebih gampang bagi Anda?

Tapi, tentu saja, yang terpenting dari itu semua adalah semangat kita untuk menata koleksi yang kita miliki. Menata koleksi setara dengan ‘menata ilmu’. Dengan kata lain, pekerjaan ini dapat bernilai ibadah dengan bobot yang tinggi.

Nah …

Topics: Buku, Pencarian Informasi |

One Response to “Perpustakaan di Pojok Rumah”

  1. tokositus Says:
    May 21st, 2008 at 8:56 am

    Assalaamu’alaikum.
    Ada jasa pengelolaan/jasa setup perpus pribadi/umum ngga’ ya Pak ?
    Klo blum ada, kliatannya ada peluang nih. Soalnya saya awam soal tata-menata buku. Dan sering bukunya ngga’ kliatan dibawa siapa/lupa taruh di bagian mana di rak buku.
    Klo ada jasa setup koleksi pribadi ke perpus pribadi/perpus umum/persewaan buku menarik bgt nih. Saya yakin laris. Trus ada manual buat pemilik ama peminjam.
    Sekedar mimpi. Siapa tau suatu saat ada.

Comments

You must be logged in to post a comment.